Revolusi mental

Salah Pengajian ?

Tulisan ini bukan masalah agama, bukan politik
Ini adalah pendidikan tentang peran ilmu pikiran pikiran bagi manusia. Ilmu pikiran dapat menjadi pelatihan dasar revolusi mental, yang bisa membantu mencegah manusia beragama menjadi “binatang buas” atau “setan terkutuk*.

Guru ngaji terlibat pengeroyokan Ade Armando. Sebelumnya guru ngaji divonis mati karena perkosa lebih dari 10 santrinya. Apa itu artinya shalat mereka, ngaji mereka gak benar? Tidak mudah menuduh begitu Ferguso.

Banyak orang belajar agama, tapi gak pernah belajar tentang pikiran. Bila kita belajar ilmu agama tanpa ilmu pikiran ini sangat berbahaya. Apa yang terjadi pada mereka yang mengaku perilakunya sudah pasti benar karena shalat dan ngajinya hebat, tapi mengeroyok orang dengan melafazkan nama Allah, dan memperkosa para santrinya? Ini hanya 2 dari begitu banyaknya perilaku manusia beragama yang sesat.

Program Pikiran Salah Umat Terjerumus
Pemahaman ajaran agama yang salah dari sisi ilmu pikiran dapat memprogram pikiran seseorang yang untuk menjadi manusia berperilaku binatang dan setan.

Fakta menunjukkan ilmu pikiran akan sangat berbahaya di tangan pemuka agama atau pemimpin yang salah. Mereka bisa membrain wash jemaahnya atau bangsanya sesuai dengan kemauan mereka. Mereka bisa membalik sesuatu yang haram menjadi halal yang halal menjadi haram, yang baik menjadi buruk yang benar menjadi salah, dan sebaliknya. Begitu dahsyatnya ilmu brainwashing ini sehingga sebuah cara yang efektif dalam strategi perang. Mereka bisa menyihir orang meledakkan sebuah mall atas nama Tuhan.

Brain wash salah satu cabang mind power, secara sengaja atau tidak sengaja bisa menciptakan teroris yang membunuh puluhan atau ratusan orang tidak bersalah. Betapa bahayanya jika wawasan ilmu berpikir ini tidak diajarkan ke masyarakat agar masyarakat berpikir dengan otaknya bukan dengkulnya.

Masyarakat awam hanya bisa mengatakan tidak mungkin atau tidak menyangka mengapa orang baik orang soleh orang yang banyak berderma tapi menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.

*Ilmu Pikiran Masuk Mesjid?”
Suatu hari sepuluh tahun lalu ada sekelompok orang berjubah berjenggot dan celana cingkrang ada dalam kelas pelatihan Mind power saya. Ini pertama kali kelas saya diisi orang berjubah sebanyak itu.

| BACA JUGA :  Menyalahkan vs Tanggung Jawab

Saya berpikir mereka pasti tidak akan suka ilmu saya, karena ilmu saya logika. Apalagi saya mengutip ayat dalam kitab beberapa agama.

Saya sempat surprise karena kelompok oang yang bercelana cingkrang tadi sangat rajin memotret semua slide slide pelatihan saya. Setelah selesai mereka menyalami saya. Mereka menyatakan sangat tertarik dan mengapresiasi pelatihan saya, mereka ingin saya bisa memberikan pelatihan ini di mesjid-mesjid mereka.

Jemaah Ekstrem
Hal yang sama terjadi ketika saya memperkenalkan ilmu pikiran (mind power) di depan pemuka masyarakat di daerah di Bandung. Pada saat itu, sebelum mulai, pak Hani yang undang saya berbisik kepada saya, ” Pak hati-hati bicara, karena yang datang ini sebagian adalah jemaah dari pesantren yang sangat ekstrem di Bandung.

Tapi karena saya merasa ilmu pikiran adalah ilmu yang universal yang memang harus diajarkan di kalangan pemuka agama apalagi yang ekstrem, maka saya bicara apa adanya.

Usai pelatihan saya justru sangat kaget, mereka datangi saya dan mengatakan subhanallah, ilmu yang saya ajarkan bagus sekali dan mereka ingin agar saya bisa mengajarkan di mesjid-mesjid.

Kasus seperti diatas bukan baru sekali dua kali saya alami, tapi seringkali bahkan saya sering diundang ke pesantren pesantren untuk membicarakan ilmu pikiran ini.

Beberapa kali malah saya menyampaikan ilmu ini walau sepintas di masjid dan disiarkan keluar melalui toa masjid. Di sebuah daerah di Sumatera Utara, saya pernah diundang untuk bicara setelah salat tarawih. Sebelum saya bicara sudah banyak jemaah yang pulang karena sudah malam. Apalagi saya pembicara terakhir. Peserta sudah sedikit sekali.

Saya memberikan pengantar ilmu pikiran yang disiarkan lewat toa masjid. Apa yang terjadi? Saya melihat satu persatu orang mulai berdatangan lagi masuk ke masjid untuk mendengarkan ceramah saya tentang dahsyatnya pikiran manusia.

Revolusi Mental
Dari sini kita belajar bahwa ajaran tentang Pancasila mungkin sulit diterima sebagai upaya untuk merevolusi mental di rumah2 ibadah. Karena Pancasila adalah ideologi. Bagi sebagian orang anda yang antipati terhadap Pancasila tapi tidak antipati terhadap ilmu pikiran. Pancasila adalah sebuah ideologi yang sebagian orang bosan mendengarnya karena itu itu saja gak ada yang baru.

| BACA JUGA :  BELAJAR CARA CERDAS BERNEGARA LEWAT NEGARA LAIN

Tapi ilmu pikiran begitu banyak yang baru, apalagi di Al-Qur’an, 50 kali disebutkan kata “afala ta’qilun’ (Apakah engkau tidak berpikir).
Sekalipun peringatan tentang akal ini diucapkan begitu banyak dalam Alquran tapi minim sekali orang yang mengerti tentang ilmu pikiran atau mind power ini.

Apakah ilmu mind power atau neurosains itu? Adalah ilmu bagaimana kita mengenali otak manusia, bagaimana cara kerjanya, sifat dan hukum pikiran. Agama orang boleh berbeda, suku orang boleh berbeda, tapi cara berpikir manusia adalah sama. Karena itulah pikiran adalah ajaran yang bersifat sangat universal berlaku untuk semua manusia tanpa kecuali.

Banyak orang fanatik sempit yang berpikir bahwa hidup ini cukup belajar dari Alquran dan hadis, selebihnya tidak perlu. Inilah yang membuat sebagian orang Islam menjadi tertinggal. Bahkan cendekiawan muslim dunia pernah membuat sebuah penelitian negara yang yang islami, dalam arti yang menerapkan ajaran kebaikan dalam Alquran justru bukan negara muslim, Selandia Baru contohnya.

Padahal Al-Quran jelas mengatakan di surah pertamanya, adalah iqra (bacalah). Tapi Indonesia yang sebagian besar umat muslim menjadi negara paling malas baca di dunia (penelitian UNESCO). Ini bertentangan sekali dengan ajaran Al-Quran. Jadi jika ada orang beragama namun pelakunya seperti binatang atau setan, ini karena dia tidak mau baca buku dan tidak belajar ilmu pikiran. Kondisi malas baca tetap bertahan karena sistem pendidikan kita termasuk jadul, diperparah dengan tidak adanya upaya dari pemerintah untuk melakukan wajib baca dan wajib belajar dalam pengertian belajar pengetahuan nonformal yang bisa merevolusi mental bangsa ini.

Atasi Extremisme
Saya menyebutnya ekstrimisme saja bukan radikalisme.

Ilmu pikiran akan membantu seseorang untuk mengubah cara berpikirnya dan memberdayakan pikirannya.

Sebenarnya, upaya kita mengatasi ekstrimisme dan intoleransi dapat dimulai dengan mengajarkan ilmu pikiran ke pesantren-pesantren, masjid-masjid, dan rumah ibadah lainnya. Mengapa ada masjid yang disebut radikal atau ekstremisme adalah karena masing-masing pimpinan dari pesantren atau lembaga-lembaga pengajian ini memiliki sudut pikiran dan pemahaman sendiri-sendiri, yang mungkin berbeda bahkan bertantangan satu dan lainnya. Santri atau jemaah bingung. Semua ustadz merasa pendapatnya yang paling benar menurut pemahamannya. Tapi ajaran pikiran dim manapun sama, bersifat universal karena ilmiah dan berdasarkan kajian. Bahkan dapat dibuktikan.

| BACA JUGA :  BOSSMAN MARDIGU BINGUNG, BOSSMAN MENGGUGAT

Islamic mind power
Karena sering saya diundang ke pesantren- pesantren, sampai akhirnya saya menciptakan pelatihan berjudul islamic mindpower.

Awalnya saya mendapatkan tantangan untuk mengajarkan ilmu ini. Bahkan saking fanatiknya, ada orang yang baru 5 menit ikut pelatihan saya sudah keluar ruangan, karena menuduh saya menTuhankan pikiran. Namun mereka yang mau mendengarkan bertahan sampai akhir bahkan menemui saya untuk konsultasi.

Penyalahgunaan Pikiran
Revolusi mental seharusnya bisa mulai dari sini, mengajarkan ilmu pikiran di rumah2 ibadah. Karena bagaimanapun ilmu pikiran adalah ilmu yang universal. Bisa diterima oleh ajaran manapun. Seorang bikhu Buddha mengatakan, “Santet adalah penyalahgunaan pikiran”.

Revolusi mental tidak bisa dimulai dari mengajarkan Pancasila. Tidak ada satu yang baru dari ajaran Pancasila. Sehingga orang sulit menerimanya. Padahal cara untuk membumikan Pancasila yang efektif adalah melalui saluran komunikasi agama.

Rumah-rumah ibadah, tidak mau membahas Pancasila di dalam forum-forum pengajian tapi akan sangat senang untuk berbicara tentang ilmu pikiran dengan ayat-ayat dalam kitab sucinya.

Banyak sekali orang belajar agama tapi hanya sebatas dogma, tidak berusaha menerjemahkan dalam pikiran. Contoh dalam Alquran lebih dari 50 kali kata afala ta’qilun (Gunakan otakmu!). Tapi karena pengetahuan yang terbatas kata ini dianggap tidak terlalu penting atau diterjemahkan secara berbeda-beda. Apalagi pijakannya hanya Alquran dan hadis tanpa berusaha untuk menggunakan referensi buku-buku agama, apalagi dari luar agama Islam.

Akibatnya muncul istilah “Salah pengajian” ketika seorang yang pemahaman agamanya baik tapi melakukan tindakan barbar atas nama Tuhan. (Bambang Prakuso, Alfateta Indonesia Mind power Academy). -Revolusi mental

Sumber : Bambang Prakuso

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *